NASKAH DRAMA “ASMARA BIKIN GILA” (ABG)

NASKAH DRAMA

ASMARA BIKIN GILA

Ide Dasar dari Cerpen Penantian oleh  Nilawati H.W.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pelaku

1.        Sarinem , cantik,lembut, berambut panjang,ndesa

2.        Bramantyo, tampan, lembut.

3.        Ayah, berwibawa, suara berat

4.        Pemuda, nakal, selengekan

5.        Pemudi, kemayu

6.        Lelaki Tua

 

NARATOR

NARATOR I

Kisah cinta anak manusia. Penuh dengan romantika. Ada saat-saat bahagia. Angan-angan melayang tinggi di awan. Kenyataan terjerembab ke dalam jurang. Penuh janji-janji yang katanya suci. Kenyataan sering diingkari. Ketika dua hati telah menyatu, ada pihak luar yang mengharu biru. Cinta pun kandas dan goresan luka begitu dalam tinggalkan bekas.

NARATOR II

Inilah kisah cinta anak manusia. Seorang gadis desa yang tertambat hatinya kepada seorang lelaki tampan dari kota.

 

 

MUSIK PELAN SYAHDU. BUNYINYA MENYAYAT-NYAYAT HATI .

NARATOR I

Gadis itu tersenyum sendiri. Di bawah pohon mangga ia duduk berjam-jam. Ia sabar menanti sang pujaan hati, Mas Bram. Ia ingin memetik buah dari janji-janji Bram yang suci. Rambutnya yang panjang dan dekil tergerai karena terpaan angin yang berdebu. Angin kotor yang timbul oleh lalu lalang mobil-mobil yang meluncur gila-gilaan. Udara panas, sepanas hati yang meranggas oleh keganasan hasrat asmara yang membara.

 

ADEGAN I

1

Inem

:

(Membuka tas plastik yang ada di pangkuan, menatap foto yang dikeluarkankanya dari sana) Mas, Mas Bram. Benar, kan kamu akan menemuiku lagi di sini? Sudah hampir sehari hlo aku duduk di sini. Mengapa Mas Bram belum kunjung datang? Apakah jalanan yang menuju ke sini macet?  Oh, ini dia! (Bangkit karena ada mobil berhenti beberapa langkah dari tempat duduknya)

 

 

 

Pengendara mobil

:

(Keluar dari mobil kemudian mengamat-amati ban mobilnya) Yah, agak gembos ban mobilku ini. He, Mbak, POM terdekat dari sini mana, ya? (bertanya kepada Inem) Ini ban mobilku agak gembos mau tambah angin di POM.

 

Inem

:

Hi hi hi. Kirain Mas Bram. Pom? Hom pimpah?Hompimpom. Hehe he.

 

Pengendara mobil

:

Yah, sialan. Orang gila! (Kembali masuk mobil dan melaju kencang)

 

Inem

:

(Kembali duduk, berkaca menggunakan telapak tangannya sebagai kaca, memainkan bibir dan lidah) Mmmuah! Mas Bram. Mengapa kamu lama banget sih. Aku tetap setia menanti di sini, Mas. Di mana kamu sekarang, Mas? Di manaaaaa?

MUSIK : DANGDUT AYU THING-THING “ALAMAT PALSU”

https://www.youtube.com/watch?v=CVRwL0-GhV4

2

Pemuda

:

(Mendekat sambil berjoged) Hai. Orang gila. Setiap hari kamu duduk di sini. Selalu menyebut-nyebut nama Bram. Kamu dikhianati, kan? Sudahlah, lupakan saja. Dulu kamu menolak cintaku karena terpikat oleh pemuda perlente dari kota. Kau campakkan cinta suciku kepadamu. Hanya karena aku cuma seorang penggembala. Aku kau hina semaunya. Kau puji-puja lelaki kota, melambung ke udara.

3

Inem

:

(mendekati pemuda sambil tertawa) Hi hi hi ternyata Mas Bram ada di sini. Aih…(mengulurkan tangan hendak memegang dagu pemuda)

4

Pemuda

:

(Mundur menjauh) Bram. Bram. Brambang, kali. Mengangkat bahu.(menggelengkan kepala)

5

Inem

:

Mas Bram jangan menjauh. Sini dekat kekasihmu yang lama merindukanmu. Masih ingat kan saat pertemuan kita yang amat syahdu. Sini, Mas. Duduk berdua di sini. Kita bicara tentang masa depan kita. Kita hidup berbahagia. Kau menjadi raja, aku ratunya. Kita berjalan menuju pelaminan indah di depan teman-teman yang datang berduyun-duyun ke pesta pernikahan kita. Kita menebar senyum tanda bahagia. Kamu seperti Pangeran dan aku seperti Putri Cinderela.

 

MUSIK : CINDERELLA “RAJA”. KERAS LALU PELAN-PELAN HILANG.

https://www.youtube.com/watch?v=nwGXqHvcOV4

6

Pemuda

:

Ih…. Amit-amit. Aku sudah nggak tertarik lagi padamu, tahu? Kini aku sudah memiliki kekasih. Gadis lugu penjual tahu. Kami saling cinta saling sayang. Kami sepasang kekasih yang serasi tak tertandingi. Dia penjual tahu dan aku… selain jadi penggembala kambing juga menjadi petani kedelai bahan untuk bikin tahu. Hlo, cocok kan? Dia gadis bahenol yang minumnya cukup dawet cendol. Bukan soft dring atau anggur merah.

7

Inem

:

Terima kasih, Mas. Kamu akan memberiku minuman cendol? Aih segernya. Aku sudah bosan minum es krim, Mas. Apalagi soft dring, aku sudah gak doyan.

8

Pemuda

:

(Mendekat, mencibir)

9

Inem

:

(Merentangkan tangan siap memberikan pelukan)

10

Pemuda

:

(Mundur ketakutan)

11

Pemudi

:

(Marah-marah karena hampir tertabrak pemuda) E…e…kalau berjalan lihat-lihat, doang. Lihat nih, beban di punggungku begitu berat! Tahu setenggok! (Mengamati pemuda) Eh, kamu , Mas? Ngapain di sini? Waduh sedang berdua-duaan dengan gadis ini, ? Ya, ampun. Mas, mas, tega benar kamu. Sepagi ini nggak mengawalku ke pasar malah berdua-duaan dengan gadis lain. Aku nggak terima, Mas. Nggak terima!

12

Pemuda

:

Dik, mbok jangan mudah cemburu. Gini, aku kan mau cari rumput di tepi jalan raya ini. Eh, ketemu…

13

Pemudi

:

Gadis cantik?

14

Pemuda

:

Gadis cantik? Ampun… coba lihat, cermati dia!

15

Pemudi

:

(Mendekati Inem,mengamati dari ujung rambut sampai ujung kaki) Ha? Orang gila? (menuding Inem sambil berekspresi jijik, menutup hidung) Hih…bau!

16

Inem

:

Hi Hi, kenalkan. Aku Putri Cinderela! (mengulurkan tangan untuk bersalaman, lalu melanggak-lenggok kemayu)

17

Pemudi

:

(Mundur-mundur sambil menutup hidung. Terdengar klakson mobil keras dan mengagetkan. Pemudi jatuh. Tahu berserakan. )

18

Pemuda

:

Awas! (mendekat memberikan pertolongan)

19

Pemudi

:

Wathathita jabang bayi. Ayo kita pergi dari sini, Mas.

20

Pemuda

:

Yoook. Mengangkat tenggok ke atas kepala, tangan kiri menggandeng Pemudi.

21

Inem

:

Hi hi hi. Kasihan. Orang gila! Orang gila! He he he orang gila menggandeng orang gila. (melonjak-lonjak kegirangan, bertepuk tangan)

Ha? Oh, dia tadi Mas Bramku! Duh, dia menggandeng gadis lain. Duh, awas! Awas kau! Pengkhianat cinta! (berlari mengejar)

LAYAR DITUTUP. TERDENGAR LAGU PENGKHIANAT ” CINTA” MAIA

https://www.youtube.com/watch?v=P6tuAS6oK3Y

 

ADEGAN II

PANGGUNG BERCAHAYA TERANG. TAMPAK PEPOHONAN BERDAUN RIMBUN. TERDENGAR BUNYI MOBIL BERLALU LALANG

 

22

Inem

:

(Berjalan anggun di tepi jalan. Menggendong sayuran dengan selendang. Tangan kanan memegang golok. Tangan kiri menenteng kelapa muda) Ah, gerah benar udara siang ini. Tapi, gak usah khawatir. Nanti sampai rumah, kubelah kelapa muda ini. Minum air kelapa muda pasti hilang segala dahaga.Yah, biarlah udara panas bikin gerah. Ah, Jadi ingat mimpiku semalam. Kalau ingat mimpi tersebut, hatiku jadi penuh tanda tanya. Aku kejatuhan bulan. Ya, bulan yang bercahaya terang. Dia jatuh di pangkuanku. Ya, Tuhan, perlambang apa ini? Baikkah? Burukkah?

MUSIK : KALAU BULAN BISA NGOMONG DUL SUMBANG

https://www.youtube.com/watch?v=3YuxYITtPmQ

23

Bram

:

(Berjalan pelan. Tengok kanan kiri.) Duh, mobilku kehabisan bensin. Mogok jadinya. Sudah kucari ke sana ke mari tidak menemukan penjual bensin.  Eh, Dik, Dik. Bolehkah aku bertanya?

24

Inem

:

(Tersenyum) Boleh. Ada yang bisa saya bantu, Om, eh, Mas?

25

Bram

:

Terima kasih. Gini. Mobilku mogok, Dik. Kehabisan bensin. He he he malu saya mengatakannya. Masak orang gini bisa kehabisan bensin. Tadi aku lupa cek bensin. Habislah. Sampai di ujung jalan itu mobilku macet.

26

Inem

:

Di sana mas?(menunjuk ke arah yang jauh) Jauh banget.

27

Bram

:

Iya. Jauh banget.

28

Inem

:

Duh, kasihan. Pasti Mas gerah dan haus karena telah jauh berjalan kaki dalam suasana panas seperti ini. Tapi, tenang. (Meletakkan beban dari gendongan, meletakkan kelapa muda dan golok). Mau minum air kelapa muda?

29

Bram

:

Mau, doang!

30

Inem

:

(melubangi kelapa muda, tapi mengalami sedikit kesulitan)

31

Bram

:

Boleh saya bantu?

32

Inem

:

Boleh

33

Bram

:

(Berusaha melubangi kelapa muda, tapi tampak kikuk dan tidak berhasil)Yah…saya nggak bisa melubangi kelapa muda ini. Maaf.

34

Inem

:

Rupanya Mas ini orang kota. Sini, Mas. Biar aku saja! (Berhasil melubangi kelapa muda). Nah, berhasil. Silakan minum,Mas!

35

Bram

:

Terima kasih. (minum air kelapa muda sampai habis). Wow segarnya! Eh, Adik tadi dari mana?

36

Inem

:

Dari kebun, Mas. Mengunduh sayuran. Dan kelapa muda tadi, bapak saya yang memetiknya. Mau bawa pulang, nih.

37

Bram

:

Oh, maaf. Jadi merepotkan, nih. Nih, sedikit uang untuk pengganti kelapa mudamu. (mengulurkan uang seratus ribu.)

38

Inem

:

Terima kasih, Mas. Tapi saya bukan penjual kelapa muda. Jadi, Mas gak usah bayar.

39

Bram

:

Duh, baik banget hatimu, Dik. Eh, kenalkan. Aku Bram, Bramantyo. Rumahku tengah kota dekat kantor gubernur.(mengulurkan tangan)

40

Inem

:

(Mengulurkan tangan, menggenggam erat tangan Bram, pandangan mata keduanya beradu) Inem. Sarinem!

41

Bram

:

OH, ya. Inem, Sarinem. Nama yang cantik, secantik pemiliknya. Emm. Di mana ada penjual bensin yang terdekat?

42

Inem

:

Di sana. Yok, aku antar ke sana. (Bersiap mengangkat sayuran)

43

Bram

:

Eh, sini. Biar aku bantu. (mengangkat sayuran, dibawa di atas kepala, berjalan beriringan)

44

Inem

:

Nanti kotor, hlo, Mas!

45

Bram

:

Ah, gak apa-apa! Eh, ngomong-ngomong Dik Inem sudah punya pacar belum?

46

Inem

:

Pacar? Siapa yang mau pacaran dengan orang kampung seperti aku ini, Mas. Jelek lagi!

47

Bram

:

Jelek? Asal kamu tahu, Dik. Aku belum pernah berjumpa dengan gadis secantik kamu. Sumpah! Dik, terus terang. Baru kali ini aku tergetar setelah memandang seorang gadis. Sungguh, aku telah jatuh cinta padamu!

48

Inem

:

Oh, perasaan yang sama telah aku rasakan, Mas Bram. Tapi, bukankah Mas Bram orang kota, anak orang kaya? Aku orang dusun, anak orang tidak berpunya. Mana boleh menjalin cinta.

49

Bram

:

Sungguh, kamu juga jatuh cinta padaku? (Menatap dengan mesra)

Aku bersumpah. Kita akan menjadi satu selamanya. Kita akan membentuk sebuah keluarga yang bahagia!

LAYAR DITUTUP.

MUSIK : TAK ADA LOGIKA AGNES MO

https://www.youtube.com/watch?v=plDMIAPF6GU

 

ADEGAN III

LAYAR DIBUKA

PANGGUNG MENAMPILKAN PEMANDANGAN INDAH, LAMPU TERANG, SUASANA CERIA.

SEPASANG KEKASIH SEDANG MEMADU KASIH

TERDENGAR BUNYI GEMERICIK AIR DAN KICAUAN BURUNG-BURUNG

https://www.youtube.com/watch?v=IwKjo3tiCMY

 

50

Bram

:

Dik Inem

51

Inem

:

Ya, Mas Bram

52

Bram

:

Sungguh kamu mencintaiku?

53

Inem

:

Sungguh, Mas. Apakah Mas Bram juga? Apakah di kemudian hari tidak menyesal memiliki kekasih orang dusun seperti aku?

54

Bram

:

Apa pun yang terjadi kita harus tetap menyatu. Cinta itu tidak butuh logika. Cinta itu lahir dari rasa dan hati. Kota dan desa bukan masalah. Keduanya bersatu dalam tautan anugerah yang penuh berkah.

55

Inem

:

Ya, Mas. Kita tidak boleh berpisah.Kamu orang kota, aku orang desa. Garam di laut, garam…di laut. Anu, anu…

56

Bram

:

Asam di gunung. Dalam periuk bertemu juga. Lihat itu sepasang burung di atas dahan itu!

57

Inem

:

Mana, Mas?

58

Bram

:

Itu, tuh. Di dahan dekat pohon kelapa!

59

Inem

:

Oh, itu. Aih, mesranya.

60

Bram

:

Itulah kita. (Berjongkok memetik kembang lalu diselipkan di kuping kanan Inem). Kamu cantik banget, Inem.

61

Inem

:

Ah, Mas Bram. Bikin anganku melayang. Barangkali inilah makna mimpiku sekian malam yang lalu.

62

Bram

:

Mimpi? Kamu percaya mimpi? Mimpi apa?

63

Inem

:

Bagaimana tidak percaya kepada mimpi? Sekian malam yang lalu aku kejatuhan bulan, Mas. Lalu ketemu kamu, lalu kamu bilang cinta. Aku juga cinta. Bulan itu adalah kamu, Mas Bram.

64

Bram

:

Oh…mimpi yang penuh makna.

65

Inem

:

Ya. Benar. Semoga itu pertanda baik bagi kita.

66

Bram

:

Ya, semoga.

TERDENGAR DERING TELEPON GENGGAM

67

Inem

:

(Terdengar nada dering aneh) Suara apa itu,Mas?

68

Bram

:

Ini suara telepon, Dik. Telepon genggam atau hand pone, disinghkat HP. (mengangkat telepon) Ya, ya. Ada apa, Ayah?

69

Ayah

:

Posisi kamu di mana?

70

Bram

:

Di luar kota, Ayah.

71

Ayah

:

Luar kota, mana?

72

Bram

:

Di desa. Desa Jabalkat.

73

Ayah

:

Ada apa kamu ke sana?

74

Bram

:

Main-main saja. Berlibur, mencari udara segar.

75

Ayah

:

Hmmm. Akhir-akhir ini kamu selalu pergi ke desa. Kalau Ayah tanya banyak alasannya. Mana yang mencari inspirasi, cari udara segar. Makin nggak jelas kamu! Pulang sekarang juga!

76

Bram

:

Ya, ya, sebentar, ayah. (berdiri, mondar-mandir gelisah, ketakutan). Dik Inem. Mohon maaf. Aku harus pulang. Ayah memanggilku.

77

Inem

:

Oh, cepat benar waktu berlalu. Baik, Mas. Kamu harus pulang. Itu perintah ayahmu. Perintah orangtua harus ditaati.

78

Bram

:

Ya, Dik. Maaf. Dah! Sampai jumpa.

LAYAR DITUTUP

TERDENGAR ALUNAN LAGU “PULANG” SLANK

https://www.youtube.com/watch?v=Sg6NhvewWmM.

 

ADEGAN IV

LAYAR DIBUKA KEMBALI. SEORANG LELAKI TUA SEDANG DUDUK DI RUANG TAMU.

 

79

Bram

:

Assalamu’alaikum.

80

Ayah

:

Wa’alaikumussalam. Duduk! (Suara berat berwibawa)

81

Bram

:

Ya, Ayah. Ada apa?

82

Ayah

:

Akhir-akhir ini kamu sering pergi ke desa. Kamu belum lama Ayah tunjuk menjadi kepala perusahaan. Perusahaan butuh perhatian. Tapi kamu malah sering meninggalkan kantor. Ayah curiga. Ada magnet kuat yang menyedot perhatianmu melebihi perhatianmu kepada perusahaan. Ayah telah mencium informasi. Di sana ada seseorang yang menguras perhatianmu. Magnet yang luar biasa menarikmu. Padahal di sekitarmu juga banyak magnet.

83

Bram

:

Saya belum paham maksud Ayah. (Menunduk)

84

Ayah

:

Jangan pura-pura bodoh. Sebagai inteletual, kamu pasti paham kata-kata Ayah. Cuma, kamu pura-pura bodoh.

85

Bram

:

Betul Ayah. Saya tidak paham.

86

Ayah

:

Baik. Terus terang. Informasi yang Ayah terima, kamu sering ke desa untuk menemui seseorang. Seorang gadis jelita, tentunya menurut pandangan matamu. Benar?

87

Bram

:

Be..be..benar, Ayah.

88

Ayah

:

Dan seseorang itu adalah gadis lulusan SD. Cantik memang, tapi kecantikan itu tidak bisa menutupi kekurangannya yang lain. Suatu hari, jika kamu peristri, dia akan canggung ketika mendampingimu dalam setiap acara-acara resmimu terkait masalah perusahaan. Dan itu berbahaya bagi kelangsungan hidupmu, kelangsungan perusahaan yang kamu pimpin. Di sekitarmu banyak gadis yang jauh lebih cantik, bersih, intelek. Selama ini kamu menutup mata.

89

Bram

:

Ayah.

90

Ayah

:

Kami, Ayah dan Om Alex telah sepakat. Nabila, anak Om Alex, kamu pasti sudah kenal. Kalian juga sudah sering berbincang-bincang tentang bagaimana memajukan perusahaan. Kalian tampak menikmati perbincangan itu. Kalian serasi. Maka, nanti malam kita bersilaturahmi ke rumah Om Alex. Kita melamar Nabila untuk kamu.

91

Bram

:

Tapi, Ayah…

92

Ayah

:

Tidak ada tapi-tapian. Kami sudah sepakat untuk bertemu. Nanti malam.

93

Bram

:

Ayah. (suara tergetar hebat)

94

Ayah

:

Silakan berbenah. Istirahat dulu. Nanti malam kita berangkat! Di garasi tiga, ada beberapa mobil baru. Ambil yang terbaik!

95

Bram

:

(Bangkit dari duduk. Melangkah lemas)

96

Ayah

:

(Meninggalkan panggung)

97

Bram

:

(Melangkah gontai, mondar-mandir memegang kepala, meremas-remas kepala, mengepalkan tinju)

MUSIK : KEGAGALAN CINTA “RADJA”

https://www.youtube.com/watch?v=Dwg5F4jmpF8

LAYAR DITUTUP

 

 

ADEGAN V

MUSIK : LAGU “KAMU DI MANA” GISMA WANDIRA

LAYAR DIBUKA. PANGGUNG MENUNJUKKAN SEBUAH PEMANDANGAN GERSANG. BANYAK POHON MERANGGAS TANPA DAUN. LANGIT KEMERAH-MERAHAN

 

97

Inem

:

(Mata menatap nanar ke segala penjuru) Oh, di mana kamu sekarang, Mas Bram. Aku setia menantimu di sini. Kamu bilang akan kembali ke tempat ini. Tapi kutunggu setiap hari di sini, kamu belum juga kembali.  Oh, itu dia.(Menunjuk ke suatu tempat) Mas, Bram. Akhirnya kamu kembali. Sini sayang aku kangen, aku rindu. Rindu setengah mati. Eh, tidak hanya setengah mati, tapi tiga perempat mati. He he he, malah melucu. Padahal aku bukan pelawak. Mas Bram (melambaikan tangan) sini doang! Mas! Mas Bramku yang tampan. Mas Bramku yang ganteng. Tak kintung-kintung…he he he. Duh, kamu kok malah menangis? Jangan sedih, sayang. Eh, eh, eh. Itu mobil Mas Bram. (berlari) Mas Bram!

 

Lelaki Tua

 

(Muncul tiba-tiba di atas panggung, terbatuk-batuk) Duh, kasihan kamu, Nak. Kamu bagaikan mengejar fatamorgana. Tentu sia-sia. Disangka ada, ternyata tiada. Disangka dekat, ternyata jauh tak bertepi. Kekasihmu itu  barangkali sudah menikah, Nak. Mungkin dia telah menemukan kebahagiaan, surga dunia. Mungkin juga terjun bebas ke dalam neraka yang menyiksa. Neraka yang diciptakan oleh orang-orang di sekitarnya yang telah salah memaknai arti cinta. Lupakan dia. Mulailah lembaran baru. Sadarlah, Nak. Sadarlah dari mimpi. Demi kebaikan keluarga dan diri sendiri.

 

Inem

:

(lari meloncat-loncat seperti orang kesurupan)

Ha? Lupakan? Lupakan? Lupakan? Memangnya mudah melupakan. Melupakan sakit di sini, di dada ini? (mendekap dada). Tidaaaaak!

LAYAR DITUTUP

MUSIK : CITA CITATA “SAKITNYA TUH DI SINI”

https://www.youtube.com/watch?v=yLeQAS5xSAg

 

NARATOR

Sakit sungguh sakit. Sakit karena cinta, karena asmara.Cinta itu buta. Cinta itu anugerah. Cinta itu bencana. Cinta itu bermacam warna. Ada duka ada bahagia. Cinta itu entahlah. Aneh! Tapi jangan takut kepada cinta! Tetaplah mencari cinta!

Ya, akankah Sarinem kembali waras dan menemukan lelaki pengganti Bram? Apakah Bram bahagia dengan Nabila, wanita pilihan orangtuanya? Sama-sama kita tunggu beritanya!

 

 

TAMAT

Omah Geguritan, September 2023

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WeCreativez WhatsApp Support
Kritik, saran yang membangun dari Anda sangat saya tunggu untuk lebih menyempurnakan web ini dan agar lebih banyak barokah.
Hai kawan, komennya mana?