ANALISIS PUISI “SAJAK RAJAWALI” KARYA RENDRA
Analisis Puisi “Sajak Rajawali” Karya Rendra
Analisis Puisi dengan Pendekatan Struktural –Semiotik
Kita sering merasakan keindahan sebuah puisi, namun sulit untuk menjelaskan di mana letak keindahannya dan apa isi/maksud yang terkandung di dalamnya.
Nah, Pak eSWe mencoba memberikan penjelasan sederhana untuk membedah puisi menggunakan pisau bedah berupa teori berikut ini.
Teori sruktural
Teori sruktural memandang sebuah karya sastra sebagai sebuah totalitas yang terbangun oleh berbagai unsur yang jalin-menjalin secara erat dan bersama-sama menghasilkan makna menyeluruh. Teori ini mengakui bahwa masalah unsur dan masalah hubungan timbal balik antarunsur merupakan hal penting. Sebuah unsur yang berdiri sendiri tidak berarti apa-apa tanpa kehadiran unsur lain yang erat berjalinan.
Menurut Waluyo (1995:28), puisi terbangun oleh unsur fisik dan unsur batin. Struktur fisik puisi tampak ketika dibaca atau ditulis. Unsur ini termasuk unsur luar. Struktur fisik puisi terdiri atas diksi, pengimajian (citraan), majas, kata konkret, tipografi, dan versifikasi (rima, ritma, metrum). Struktur batin puisi adalah makna yang hendak dikemukakan oleh penyair sesuai dengan suasana jiwanya. Struktur batin puisi terdiri atas perasaan (feeling), tema (sense), nada (tone), dan amanat (intention).
Unsur fisik dan unsur batin tersebut saling menjalin, saling mengikat, dan membentuk makna utuh. Keutuhan/kepaduan struktur inilah yang menyebabkan puisi dikatakan indah/puitis.
Menurut Pradopo (1990:13), puisi dikatakan puitis jika dapat membangkitkan perasaan, menarik perhatian, menimbulkan tanggapan yang jelas, atau menimbulkan keharuan. Kepuitisan dapat dicapai dengan berbagai cara, misalnya dengan bentuk visual (tipografi dan susunan bait), dengan bunyi (persajakan), pemilihan kata, bahasa kiasan, ketatabahasaan, gaya bahasa, dan lain-lain.
Berbagai cara yang digunakan untuk menimbulkan efek puitis dalam puisi tersebut dinamakan sarana kepuitisan (unsur pembangun). Unsur pembangun puisi di antaranya : bahasa kiasan, diksi, citraan, sarana retorika, dan persamaan bunyi. Semakin banyak unsur pembangun itu ditemukan dalam puisi, efek puitis yang ditimbulkannya makin tinggi.
Teori Semiotik
Semiotik adalah ilmu tanda-tanda. Bahasa adalah tanda. Studi semiotik sastra adalah usaha untuk menganalisi sitem tanda-tanda (Pradopo, 1995:122).
Untuk dapat memberikan makna puisi secara semiotik, pertama kali dapat dilakukan dengan pembacaan heuristik den hermeneutik atau retroaktif (Reiffaterre, via Pradopo, 1995:134). Pembacaan heuristik adalah pembacaan berdasarkan struktur bahasanya atau secara semiotik, yaitu berdasarkan konvensi sistem semiotik tingkat pertama. Pembacaan hermeneutik adalah pembacaan karya sastra berdasarkan sistem semiotik tingkat kedua atau berdasarkan konvensi sastranya. Pembacaan hermeneutik adalah pembacaan ulang (retraktif) sesudah pembacaan heurisitik dengan memberi konvensi sastranya (Pradopo, 1995:134-135).
Analisis Struktural-Semiotik
Untuk memahami makna secara keseluruhan, puisi perlu dianalisis secara struktural. Analisis secara struktural adalah analisis yang melihat bahwa unsur-unsur struktur puisi itu saling berhubungan erat, saling menentukan artinya. Sebuah unsur tidak mempunyai makna dengan sendirinya terlepas dari unsur-unsur lainnya.
Sebuah puisi tersusun oleh tanda-tanda yang bermakna dan bersistem sehingga dapat didekati dengan analisis semiotik.
Contoh Analisis puisi dengan pendekatan Struktural-Semiotik
Sajak Rajawali
Sebuah sangkar besi
tidak bisa mengubah seekor rajawali
menjadi seekor burung nuri
Rajawali adalah pacar langit
Dan di dalam sangkar besi
rajawali merasa pasti
bahwa langit akan selalu menanti
Langit tanpa rajawali
adalah keluasan dan kebebasan
tanpa sukma
Tujuh langit, tujuh rajawali.
Tujuh cakrawala, tujuh pengembara.
Rajawali terbang tinggi
memasuki sepi
memandang dunia.
Rajawali di sangkar besi
duduk bertapa
mengolah hidupnya.
Hidup adalah merjan-merjan kemungkinan
yang terjadi dari keringat matahari.
Tanpa kemantapan hati rajawali
mata kita hanya melihat fatamorgana.
Rajawali terbang tinggi
membela langit dengan setia.
dan ia akan mematuk kedua matamu.
Wahai, kamu, pencemar langit yang durhaka!
Analisis Struktural Puisi Rajawali karya W.S. Rendra:
1. Bahasa Kiasan
Bahasa kiasan atau figurasi adalah penggunaan bahasa secara bersusun-susun atau berfigura. Bahasa kiasan menyebabkan puisi kaya akan makna. Penyair menyatakan sesuatu scara tidak langsung. Kata atau bahasanya bermakna kias. Dengan mempergunakan bahasa kiasan, sebuah puisi akan membangkitkan kesenangan imajinatif, puisi lebih nikmat dibaca, intensitas perasaan penyair dan juga sikapnya lebih tampak, makna yang terkandung dalam puisi menjadi lebih padat (Perrine, via Waluyo, 1995:83)
Secara keseluruhan puisi Sajak Rajawali mempergunakan bahasa kiasan berupa alegori. Alegori adalah metafora dalam bentuk panjang. Puisi ini berisi cerita kiasan. Dari awal hingga akhir puisi ini bercerita tentang rajawali. Puisi berisi kiasan bagi orang yang berpandangan luas, berpikiran maju, memiliki keberanian luar biasa, dan seorang pembela kebenaran. Pendeknya, dalam puisi ini diceritakan secara kias seorang pejuang kemerdekaan/kebebasan.
Hal tersebut tercermin dari bait terakhir :
Rajawali terbang tinggi
membela langit dengan setia
Dalam puisi ini terdapat juga bahasa kiasan berupa personifikasi/pengorangan. Hal ini ditunjukkan bait kedua : Rajawali adalah pacar langit dan bait keempat : Rajawali di sangkar besi/duduk bertapa/mengolah hidupnya//.
Bahasa kiasan dalam puisi ini dipergunakan untuk menyampaikan ide meraih kebebasan berbuat dan menyampaikan buah pikiran meskipun berisiko masuk penjara (sangkar besi).
2. Diksi (Pemilihan Kata)
Dari judulnya, tampak bahwa penyair cermat dalam memilih kata. Sajak Rajawali, kata pertama dalam judul tersebut diawali bunyi desis /s/ dan diakhiri bunyi tutup /k/. Keduanya merupakan bunyi tidak merdu dan menimbulkan rasa sesak. Kata kedua, rajawali mengandung bunyi merdu /i/. Kombinasi kata-kata itu terasa pas sesuai isi puisi yang membicarakan kebebasan yang bertentangan dengan keterkungkungan.
Kata sajak dalam puisi itu tidak bisa digantikan kata lain sebagai sinonimnya, yaitu puisi. Demikian pula kata rajawali tidak bisa digantikan dengan kata garuda, misalnya. Kata garuda sudah melekat dengan kata lain yang berhubungan dengan negara Indonesia : Garuda Pancasila. Kata garuda menjadi kurang universal karena sudah ada ikon lain : Garuda Indonesia Airways, kacang garuda.
Kata rajawali lebih mewakili isi keseluruhan yang berbicara tentang pentingnya kebebasan seperti: bebas pergi ke mana saja, menentukan pilihan tempat tinggal, menentukan sendiri makanan yang hendak dimakannya, memiliki fisik kuat, mata tajam yang dengan mata itu ia dapat mengetahui luasnya dunia.
Dari awal sampai akhir puisi tersebut, kata-kata terpilih secara cermat dan tepat untuk menimbulkan semangat meraih kebebasan. Hal itu tampak pada penggunaan kata : sangkar besi, rajawali, burung nuri, keringat matahari, kemantapan hati, rajawali, terbang tinggi, membela langit langit,dan sebagainya.
3. Citraan
Citraan merupakan kata atau susunan kata-kata yang dapat menimbulkan pengalaman sensoris. Kata-kata bisa membangkitkan imaji pembaca tentang gerak, bunyi, warna, dan benda-benda.
Citra visual amat dominan dalam Sajak Rajawali. Citraan digunakan dalam puisi ini untuk memberikan gambaran tentang pentingnya kebebasan. Citra visual dapat ditemukan dalam penggunaan kata-kata : sangkar besi, burung nuri, langit, duduk bertapa, matahari, fatamorgana, matamu.
Citra penglihatan ini dipergunakan untuk memberikan gambaran nyata tentang burung rajawali yang ada di sangkar besi, burung nuri yang kecil dan lemah, langit biru yang luas.
Dengan citra penglihatan ini, pembaca atau pendengar akan membayangkan sekaligus membandingkan burung rajawali yang ada di dalam sangkar besi dan burung rajawali yang ada di alam bebas. Di alam bebas, rajawali dapat terbang ke mana saja yang ia inginkan dan yang di sangkar besi, tudak demikian.
Citra gerak dapat ditemukan dalam bait keempat dan ketujuh.
Rajawali terbang tinggi
memasuki sepi
memandang dunia.
Rajawali di sangkar besi
(bait ke-4)
Rajawali terbang tinggi
membela langit dengan setia.
dan ia akan mematuk kedua matamu.
(bait ke-7)
4. Sarana Retorika
Sarana retorika adalah sekumpulan bentuk atau beberapa macam bentuk yang biasa digunakan penyair dalam cara melahirkan pikiran lewat puisi. Sarana retprika merupakan sarana kepuitisan yang berupa muslihat pikiran (Altenbernd, via Pradopo, 1990:93).
Dengan sarana retorika penyair berusaha menarik perhatian, pikiran, hingga pembaca atau pendengar berkontemplasi atas apa yang dikemukakan penyair.
Banyak macam sarana retorika, di antaranya : tautologi (pernyataan berulang), pleonasme (melebih-lebihkan), retorik retisense (penggunaan tanda baca titik-titik untuk mengungkapan perasaan yang tidak terungkapkan), paralelisme (pengungkapan isi kalimat yang maksud tujuannya serupa).
Dalam Sajak Rajawali kita temukan sarana retorika berupa paralelisme.
Tujuh langit, tujuh rajawali.
Tujuh cakrawala, tujuh pengembara.
(bait ke-3)
Penggunaan peralelisme dimaksdkan agar pembaca benar-benar memperhatikan dan merenungkannya.
5. Bunyi
Dalam Sajak Rajawali, penyair sangat gemar mempergunakan vokal /i/ terutama pada bunyi akhir secara vertikal. Hanya ada dua suku tertutup yang tidak mengandung bunyi tersebut, yaitu pada kata kebebasan (bait ke-3 baris ke-2) dan kata kemungkinan (bait ke-5 baris ke-1). Di samping bunyi /i/ secara vertikal juga banyak dipergunakan bunyi akhir /a/. Bunyi akhir /u/ hanya ditemukan satu saja, yaitu baris ke-3 bait ke-7.
Secara horisontal dalam Sajak Rajawali amat dominan dipergunakan bunyi /r/, /l/, dan /t/, dan kadang-kadang bunyi /d/.
Dominannya bunyi akhir /i/ secara vertikal disokong bunyi /a/ pada sajak vertikal menyebabkan puisi ini membawa suasana riang, ringan, melayang, melambung, dan rasa optimistis pada pembaca atau pendengar.
Kadang-kadang bunyi yang merdu dipertentangkan dengan bunyi tak merdu dalam satu baris pada bait yang sama, kadang-kadang dipertentangkan antarbaris dalam satu bait. Misalnya bunyi /r/ yang merdu dan bunyi /t/ (tidak merdu).
Hidup adalah merjan-merjan kemungkinan
yang terjadi dari keringat matahari.
Tanpa kemantapan hati rajawali
mata kita hanya melihat fatamorgana.
Pada bait ke-3, bunyi /l/ (merdu) dipertentangkan dengan bunyi /t/ (tidak merdu)
Langit tanpa rajawali
adalah keluasan dan kebebasan
tanpa sukma
Tujuh langit, tujuh rajawali.
Tujuh cakrawala, tujuh pengembara.
Pertentangan bunyi merdu dan tik merdu ini memberikan kesan pergulatan atau pertentangan. Pertentangan apa? Pertentangan antara kebebasan (langit) dan keterkungkungan (sangkar besi).
Keterkaitan antara Bahasa Kiasan, Diksi, Citraan, Sarana Retorika, dan Bunyi secara Struktural dalam Sajak Rajawali.
Unsur-unsur dalam puisi Sajak Rajawali tampak kait-mengait secara erat dan membentuk keterjalinan yang koheren. Judul Sajak Rajawali sudah menunjukkan gambaran keseluruhan puisi tersebut. Rajawali menunjukkan kekuatan, ketajaman pandangan hidup, kebebasan bergerak, pantang menyerah dalam berusaha.
Keinginan meraih cita-cita yang melambung tinggi ditunjukkan dengan penggunaan kata-kata (diksi) yang cermat dengan didominasi kata-kata yang mengandung bunyi /i/, dan /a/ yang merupakan bunyi-bunyi merdu. Bunyi-bunyi tersebut memberikan nuansa ringan, melambung, dan rasa optimistis.
Suasana ringan dan indah juga disokong oleh penggunaan bahasa kiasan berupa metafora-metafora.
Secara keseluruhan Sajak Rajawali menunjukkan adanya koherensi struktural puisi, baik dari segi
Analisis Semiotik Sajak Rajawali
1) Pembacaan Heuristik
Bait ke-1
Sebuah sangkar (yang terbuat dari) besi tidak akan bisa mengubah seekor (burung) rajawali (yang besar dan kuat) menjadi seekor burung nuri (yang kecil dan lemah)
Bait ke-2
(Burung) rajawali adalah (bagaikan) pacar (bagi) langit. Dan dalam sangkar(yang terbuat dari) besi (burung) rajawali merasa pasti bahwa langit (yang bagaikan pacar itu) akan selalu menanti (kedatangan dirinya)
Bait ke-3
Langit (yang) tanpa (ada burung) rajawali (di dalamnya) adalah (bagaikan) keluasan dan kebebasan (yang) tanpa (ada) sukma (nya). (Jika ada) tujuh (burung) rajawali, (baginya ada) tujuh langit. (Jika ada) tujuh pengembara, (baginya ada) tujuh cakrawala.
Bait ke-4
(Burung) rajawali (yang) terbang tinggi (akan) memasuki (tempat atau daerah yang) sepi (dan dari sana ia dapat) memandang dunia. (Seekor burung) rajawali (yang dikurung) di sangkar (yang terbuat dari) besi (bagaikan orang yang) duduk bertapa (untuk) mengolah (jiwa dalam [ke] hidup [an]) nya.
Bait ke-5
(Ke)hidup (an ini) adalah (bagaikan) merjan-merjan (atau manik-manik dari berbagai) kemungkinan yang (seakan-akan) terjadi dari (tetesan) keringat matahari. (Jika dalam hidup) manusia tanpa memiliki mata (hati) kita (seakan-akan) hanya melihat fatamorgana (sesuatu yang tampaknya ada, namun sesungguhnya tiada).
Bait ke-6
(Burung) rajawali (yang sedang) terbang tinggi (berarti ia sedang) membela langit dengan (penuh ke) setia (an). Dan ia (burung rajawali itu) akan mematuk kedua matamu, wahai kamu (para) pencemar langit yang durhaka (kepada langit)!
2) Pembacaan Hermeneutik
Berikut ini adalah pembacaan hermeneutik atau retroaktif terhadap puisi Sajak Rajawali.
Bait ke-1
Penjara (sangkar besi) atau pun bentuk-bentuk pengekangan , pembatasan ruang gerak dan pikir, serta bentuk-bentuk pengekangan yang lain tidak akan mampu menjadikan pejuang kebebasan/pejuang kemanusiaan berhenti dalam perjuangannya. Jika pejuang kemanusiaan itu (reformis) dimasukkan penjara, atau dicekal oleh penguasa (pemilik sangkar besi) dia tidak akan berubah menjadi orang yang lemah (seperti burung nuri).
Bait ke-2
Pejuang kebebasan sejati (rajawali) akan selalu dinantikan kehadirannya oleh orang-orang pada umumnya yang memang secara kodrati selalu menginginkan kebebasan berpikir, berekspresi, menyampaikan pendapat, dan sebagainya. Ia, pejuang kebebasan itu sangat dirindukan datangya (seperti halnya pacar/kekasih) untuk membawa pembaharuan (reformasi) bagi adanya kebebasan yang bertanggung jawab (langit). Di dalam penjara, pejuang itu tetap memiliki rasa optimisme yang yang tinggi bahwa suatu saat ia akan menemukan kebebasan yang ia perjuangkan. Ia memiliki keyakinan bahwa kebebasan (langit) itu selalu menantinya bagaikan seorang pacar yang senantiasa setia menunggu kekasihnya.
Bait ke-3
Akan tetapi, jika kebebasan itu (langit) ada sedangkan tidak ada orang yang mau berjuang mengisinya dengan semangat tinggi, jiwa yang kuat, kemerdekaan (keluasan dan kebebasan) itu tidak ada rtinya (tanpa sukma). Padahal, untuk setiap orang yang memiliki semangat tinggi, jiwa yang kuat untuk mengisi kebebsan atau kemerdekaan itu, akan selalu tersedia kesempatan berupa jabatanm pekerjaan, dan lain-lain. (Tujuh langit, tujuh rajawali. Tujuh cakrawala, tujuh pengembara).
Bait ke-4
Seorang pejuang kebebasan (rajawali) biasanya berusia muda atau setidak-tidaknya berjiwa muda, punya idelisme tinggi (terbang tinggi), suka berkontemplasi, merenung (memasuki sepi). Dengan demikian, ia akan mendapat pencerahan jiwa, mampu menangkap hakekat hidup dan kehidupan (memandang dunia). Oleh karena itu, seorang pemuda yang berjuang untuk memperoleh kebebasan menentukan sendiri kehidupannya jika berada dalam kekangan (sangkar besi) dapat diumpamakan seorang yang duduk bertapa untuk mengolah jiwa dalam rangka menyusun strategi kehidupan.
Bait ke-5
Kehidupan manusia ini sesungguhnya penuh dengan kemungkinan-kemungkinan yang baik (merjan-merjan) yaitu berupa keberhasilan atau kesuksesan. Kesuksesan itu sesungguhnya merupakan hasil usaha keras dengan memeras keringat (terjadi dari keringat matahari). Oleh karenanya, kita sebagai manusia harus memiliki kejelian dalam mendapatkan kesempatan meraih sukses. Tanpa memiliki kejelian, kita akan mudah tertipu (hanya melihat fatamorgana).
Bait ke-6
Seorang pemuda yang punya idealisme tinggi (terbang tinggi) akan selalu konsisten (setia) dalam memperjuangkan kebebasan (membela langit) dan dia akan membuktikan kepadamu (mematuk kedua matamu) bahwa ia dapat memperoleh apa yang diperjuangkannya, wahai, kamu, (orang-orang )yang selalu menghalang-halangi pemuda yang memperjuangkan kebebasan/kemerdekaan (pencemar langit yang durhaka).
eSWe Sidi, 2013
More Stories
Teks MC Manten Bahasa Jawa
Assalamu’alaikum wr.wb. Alhamdulillahirabbil’alamiin. Asholatu wasalamu’ala ambiyai wal mursalin, Muhammadin, wa’ala alihi wash-habihi ajmaiin. Bismillahirahmanirrahiim. Kapurwakan kanthi ngluhuraken asma Allah, ing ...
TK ABA SLANGGEN MENDAPAT WAKAF MELALUI UANG 400 JUTA
Para Pimpinan yang hadir Hj. Martini menerima wakaf secara simbolis Ibu Aminah,S.Pd. (Sewon,12/1/2025) Ahad tanggal 12 Januari 2025 menjadi hari...
RAMAH TAMAH PENGURUS MUI SEWON
Ahad, 3 November 2024, pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kapanewon Sewon mengadakan pertemuan di RM Kampoeng Mataraman, Ring Road Selatan....
MKKS SMK BANTUL MENYELENGGARAKAN RAKOR DAN WORKSHOP
Hari Sabtu-Minggu, 26-27 Oktober 2024 yang lalu, Musyawarah Kerja Kepala Sekolah SMK se-Kabupaten Bantul menyelenggarakan Rakor dan Workshop Penyusunan Program...